Larutan Senja — Ratih Kumala

Ratih Kumala adalah salah satu penulis Indonesia favorit saya. Betul, sejak Gadis Kretek. Tapi bukan karena serialnya. Saya sudah membaca novelnya di iPusnas sebelum terdengar berita tentang adaptasinya di Netflix.

Saat pulang kampung Agustus kemarin, saya sudah berencana ingin membeli novel terbarunya, Koloni. Eh, kok ya terlewat. Karenanya, saya sangat senang bisa meminjam Larutan Senja di iPusnas. Rasanya dulu sulit sekali untuk mendapatkannya karena panjang antriannya.

Kumpulan Cerpen

Larutan Senja merupakan kumpulan cerpen. Ada 14 cerpen dengan tema yang cukup beragam di dalamnya: dari permasalahan sosial hingga keyakinan, termasuk hal-hal surealis dan magis. 

Di antara cerpen-cerpen tersebut, dua di antaranya sudah sempat diterbitkan dalam antologi yang berbeda. Cerpen "Larutan Senja" yang diambil sebagai judul kumcer ini sudah masuk dalam antologi Bidadari Sigar Rasa yang terbit pada tahun 2005. Cerpen "Pada Sebuah Gang Buntu" dimuat dalam antologi Machine Sex and Love: Cerita Cinta, Persahabatan, dan Perang pada tahun 2005 juga.

Delapan cerpen sudah sempat diterbitkan di berbagai media antara tahun 2004 hingga 2006. Cerpen-cerpen yang belum pernah diterbitkan sebelumnya adalah "Sang Paradji", "Tahi Lalat di Punggung Istriku", "Dalu Dalu", dan "Anakku Terbang Laksana Burung".

Untuk Pembaca Dewasa

Ngaku-ngaku ngefan, padahal selain Gadis Kretek, karya Ratih Kumala yang sudah saya baca baru novelet Wesel Pos dan novel Saga dari Samudera yang saya beli khusus saat mudik ke Indonesia 2023 lalu. Sebenarnya sudah lama saya ingin membaca novelnya yang lain lagi: Tabula Rasa, novelnya yang pertama. Saya sudah sempat meminjamnya beberapa kali di iPusnas. Tapi selalu terpotong. Entah karena terpotong masa pinjam, atau masa-masa vakum iPusnas. 

Meski Tabula Rasa tersedia untuk dipinjam, saya memilih Larutan Senja karena mendengar kabar tentang cetak ulangnya awal September kemarin. Padahal sebenarnya saya menghindari kumcer. Karena biasanya cerpen yang "nyastra" mengandung tema berat. Dan benar saja!

Sampul edisi 2026

Kalau tidak bikin nyeri atau ngeri, beberapa cerpen membuat berpikir: apa maksud penulis membuat cerita seperti ini?

Penerbit Gramedia Pustaka Utama mengategorikan kumcer ini untuk pembaca 18 tahun ke atas. Dan saya sepakat. Perlu kedewasaan untuk mencerna beberapa konten yang mengandung kekerasan dan pertanyaan-pertanyaan atas eksistensi.

Untuk saya sendiri, kebanyakan cerpen kurang menggigit. Mungkin karena sudah berumur 20 tahun, Saya sudah sempat membaca banyak cerita-cerita yang serupa. Gaya penulisannya sendiri sederhana, membuatnya mudah dibaca. Beberapa kisah terlalu mudah ditebak. 

Halaman Berwarna

Kumpulan cerpen ini bisa dipinjam dengan cukup mudah di iPusnas. Hanya saja, halamannya yang berwarna membuat lambat penampilannya. Padahal total hanya 136 halaman. Sabar-sabar saja kalau harus membuka ulang bukunya, mau lompat-lompat halaman, atau mau melakukan pencarian.

Apakah versi cetaknya berwarna juga? Kalau mengintip di Google Books sih sepertinya tidak. Tidak untuk edisi terbaru.

Versi bahasa Inggris tersedia juga di iPusnas

Edisi yang tersedia di iPusnas tertulis merupakan cetakan pertama Januari 2017. Padahal setahu saya Larutan Senja pertama kali terbit pada 2006. 2017 itu untuk versi digitalnya, mungkin ya?

Ada disebutkan perancang tata letak dan sampul, tapi tidak disebutkan adanya penyunting di edisi ini. Saya merasa cukup terganggu dengan kesalahan ejaan dan tanda baca yang bertaburan. Semoga ini sudah diperbaiki di edisi-edisi berikutnya, terutama yang terbaru, ya!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Je Reviendrai avec la Pluie — Ichikawa Takuji

Kita Pergi Hari Ini - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Tant Que le Café est Encore Chaud — Kawaguchi Toshikazu