Aku Tak Marah: Bukan Buku Anak Karya Djokolelono
Beberapa waktu yang lalu, grup WhatsApp Klub Buku KLIP membicarakan tentang buku-buku Djokolelono. Saya pun ikut penasaran akan penulis yang cuma saya kenal namanya tapi merasa belum pernah membaca karyanya itu.
Ada beberapa buku yang disarankan oleh teman-teman KBK. Kebanyakan buku anak. Demikian pula yang tersedia di iPusnas. Saya memilih Aku Tak Marah. Bukan buku anak!
Pelarian Agit
Menceritakan tentang Agit yang diusir Vici, pacarnya, dari rumah kontrakan mereka. Dompet tertinggal di meja tamu, pintu dikunci oleh Vici yang sudah pergi bekerja, Agit pergi berbekal jaket dan gitarnya.
Agit yang kelaparan tanpa uang sepeser pun duduk-duduk di sebuah halte bus. Di sana dia berkenalan dengan Candra, seorang anak lelaki yang berusia sekitar 12 tahun. Candra mengejeknya Agit yang sempat dilihatnya diusir oleh Vici sebelumnya.
Secarik lirik mendesak kepala Agit. Dia pun mulai memetik gitarnya dan bernyanyi. Entah karena suaranya yang bagus atau karena liriknya yang sederhana dan jenaka, banyak orang mulai memerhatikannya.
Candra ikut bernyanyi dengan liriknya sendiri. Dia juga mengedarkan bekas bungkus kacang kepada para penonton yang memberinya uang. Termasuk gadis cantik berpakaian kerja yang sempat merekam mereka saat bernyanyi dengan ponselnya. Sampai Candra melihat bos pengamen setempat dan anak buahnya yang datang mendekat.
Candra lekas mencengkeram lengan Agit dan membawanya menjauh. Mereka lari menyusuri pasar, jalan-jalan kecil, menghindari bos pengamen yang kabarnya kejam itu. Dan mulailah petualangan Agit yang kemudian dicari-cari, tak hanya oleh bos pengamen, tapi oleh lebih banyak orang lagi.
Dekat Sekaligus Asing
Sinopsis di sampul belakang menyiapkan pembaca akan isi novel: kisah tentang "warga miskin kota besar dan pinggiran kota besar". Disebutkan pula bahwa ini adalah "dunia yang dekat sekaligus asing bagi pembaca umum Indonesia". Dan benar demikian.
Membacanya mengingatkan saya akan masa SMA dulu saat bergabung dengan tim pendataan penduduk bersama Pramuka Kwartir Cabang Surakarta. Entah apakah bekerja sama dengan pemda, saya tak ingat. Yang jelas, saya ikut grup itu karena tak ada satupun anggota Gugus Depan kami yang mau ke sana. Tanggung jawab sebagai Pradani, ceunah. Heu ....
Kami dibagi dalam kelompok dan mendata penduduk yang tinggal di sepanjang tepian Bengawan Solo. Sebuah pengalaman tersendiri mendekat dan melihat langsung dari dekat kondisi mereka. Kami tak masuk. Tak bisa. Tak cukup tempat. Penghuninya juga merasa tak layak menerima tamu. Kami mendata mereka, bertanya jawab sambil berdiri di depan pintu saja. Kalau itu bisa disebut sebagai pintu.
Cerita kehidupan mereka sungguh tak saya sangka-sangka. Padahal mereka tinggal tak jauh dari saya. Hanya 3 kilometer dari tempat kos saya yang tepat di belakang SMA.
Pengalaman itu membuat saya tak kaget membaca awal cerita di mana Agit dan Vici hidup serumah dengan status pacar. Yang membuat agak kaget mungkin bahwa sebenarnya Vici memiliki posisi dan peran penting dalam pekerjaannya. Berbeda dengan para penduduk bantaran Bengawan Solo yang saya temui waktu itu yang bukan pegawai kantoran dan banyak yang tak kenal sekolahan.
Ringan, Menghibur
Novel ini tipis saja. Total 157 halaman dari sampul depan hingga sampul belakang. Bahasanya ringan, kalimatnya pendek-pendek. Penceritaannya menarik, banyak unsur humornya, menjadikan buku ini mudah dibaca—bahkan saya memaafkan kesalahan-kesalahan penulisan dengan relanya. Sekali duduk juga bisa selesai. Kalau duduknya anteng, tentunya ya! Hehehe.
Tapi memang buku ini seru. Ada sedikit plot twist. Akhir ceritanya pun membahagiakan semua orang. Kecuali Tante Anti, mungkin ya? Dan Ratna? Eh? Sssttt. Hihihi.
Novel terbitan Moka Media pada 2014 ini katanya ditulis untuk membuktikan bahwa Djokolelono bisa menulis cerita untuk orang dewasa—yang menurut saya bisa dibaca mulai remaja. Dan saya pun penasaran membaca buku anak-anak karyanya. Lho? Hehehe.


Komentar
Posting Komentar