Kalau Bimo Jadi Pangeran Diponegoro

Saat membuka iPusnas selumbari, saya melihat ada rubrik baru di ePustaka. Euh, mungkin tidak baru. Hanya saya baru melihatnya: Komik Naskah Nusantara. 

Saya sudah sempat melihat informasi mengenai proyek pengalihwahanaan koleksi naskah kuno Perpustakaan Nasional Republik Indonesia saat akhirnya berkesempatan berkunjung ke sana Agustus lalu. Tak disangka saya bisa melihatnya di iPusnas secepat ini. Atau lambat? Heu....

Dari buku yang tersedia, saya tertarik mencoba membaca salah satunya: Kalau Bimo Jadi Pangeran Diponegoro yang ditulis dan diilustrasi oleh Anindita Putri.

Bimo dan Kereta Emas

Bimo diajak Nenek berkunjung ke Museum Keraton Yogyakarta. Dia senang sekali. Gedungnya seperti istana dalam film, ada foto-foto dan benda-benda dari zaman dahulu, lalu ada pemandu museum yang menceritakan sejarah. Dan di sana ada kereta berwarna emas yang terlihat sangat mewah.

Bimo sangat mengagumi kereta emas itu. Dia berdiam terpaku memandanginya, sampai-sampai tak sadar bahwa Nenek telah berpindah ke ruang berikutnya.

Tiba-tiba ada cahaya yang menyilaukan datang dari kereta itu. Saat berkedip, Bimo sudah berada dalam kereta bersama seorang paman, yang kemudian disadarinya ternyata adalah Pangeran Diponegoro! 

Bimo Melintas Waktu

Ada beberapa alasan mengapa saya memilih buku ini. Pertama, saya sudah sempat melihat sampulnya yang dipamerkan di Perpusnas Jakarta, tetapi belum juga mencoba mengakses link yang dicantumkan di sana. Kedua, saya suka dengan ilustrasi sampulnya. Gaya pensil warna dengan warna-warni cerianya menurut saya bagus sekali. Pasti karena itu juga saya mengingat dengan cukup jelas ketertarikan saya sebelumnya.

Ketiga, karena tokoh ceritanya bernama Bimo. Bimo adalah nama panggilan untuk adik kandung saya yang tentu saja tak bernama Bimo. Dipanggil demikian oleh Yangakung karena saat kecil kedapatan tidak menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil kepada Ibu. Yangakung memarahinya dengan menjulukinya Bimo alias Werkudara yang memang selalu menggunakan bahasa Jawa Ngoko ke siapa saja.

Intermeso, yak!? Hehehe.

Bimo dalam buku ini sih tak diceritakan sebagai anak bandel. Dia menurut, tak protes atau pun merajuk saat minta dibelikan bakpia dan tak dituruti oleh neneknya. Bimo senang di museum, melihat koleksi yang dipamerkan dan mendengarkan Abdi Dalem yang menjadi pemandu.

Saking menghayati koleksi museum, Bimo sampai terbawa melintas dimensi waktu. Bimo melihat sendiri bagaimana perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah, bagaimana beliau membela rakyat lemah.

Kerja Sama Perpusnas dan DKV FSRD ITB

Kalau Bimo Jadi Pangeran Diponegoro merupakan salah satu hasil pengalihwahanaan naskah kuno koleksi Perpusnas, yaitu dari Babad Diponegoro. Selain kisah tentang Bimo—atau lebih tepatnya penggalan kisah Pangeran Diponegoro sih ya!?—masih ada beberapa buku lain yang diambil dari Babad Diponegoro yang juga tersedia di iPusnas. 

Di halaman hak cipta dicantumkan bahwa buku ini diterbitkan oleh Perpusnas Press bekerja sama dengan DKV FSRD ITB. Hooo, pantas ilustrasinya bagus sekali! Saya pun mencari informasinya. 

Eh lha kok ternyata, pas sekali menemukan di feed Instagram FSRD ITB yang memuat tentang peluncuran 50 karya hasil alih wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MoW) pada 26 September 2026. Feed-nya baru diunggah kemarin!!!   

Disebutkan dalam feed tersebut bahwa ada 38 buku cerita anak bergambar, 2 chapter book, dan 10 komik. Hmmm ... masih ada banyak bahan bacaan nih! Itu baru Babad Diponegoro. Masih ada buku-buku lain yang diambil dari naskah kuno lain: Sutasoma, Negarakertagama, Arjunasasrabahu ... 

Terganjal Bakpia

Saya sendiri hanya mengenal naskah-naskah kuno yang disebutkan dalam koleksi sebatas nama saja. Mungkin pernah mempelajarinya saat sekolah dulu, tahu garis besar isinya. Yang jelas sekarang habis lenyap tak bersisa.

Program pengalihwahanaan ini mengingatkan (kembali?) akan kekayaan naskah kuno nasional. Mengenalkannya kepada generasi baru dengan cara yang menarik. Termasuk kisah Bimo yang mengombinasikan sejarah, budaya lokal, dengan bumbu fantasi ini.

Saya hanya menyayangkan bahwa Bimo mengunjungi museum sambil makan bakpia. Padahal saya sempat berharap saat Nenek menolak membelikannya lagi dari toko di depan museum. Berharap bahwa alasannya adalah tidak boleh makan di dalam ruang pamer museum. Apalagi sambil berjalan. 

Apalagi bakpianya digambarkan dikemas dalam saset satuan. Euh.... IYKYK. Hehehe....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Je Reviendrai avec la Pluie — Ichikawa Takuji

Kita Pergi Hari Ini — Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Tant Que le Café est Encore Chaud — Kawaguchi Toshikazu