Vermilion Rain
Entah sejak kapan saya mengantri Vermilion Rain. Dan entah mengapa, saya sudah lupa. Baru tersadar saat melihat buku ini di daftar antrian iPusnas saya. Genre novel ini adalah thriller. Bukan genre yang biasa saya baca.
Namun, karena sudah jatuh hati pada Teori Tawa dan Cara-cara Melucu Lainnya, saya jelas ingin membaca karya-karya Kai Elian yang lain. Dan kebetulan, hanya buku ini yang ada di iPusnas. Dan kebetulan juga, buku ini pas tersedia seusai saya membaca Teori Tawa.
Misi Penyelamatan
Bercerita tentang Asa yang diajak oleh sahabatnya Elang ke Desa Bokudi yang terletak di lereng Gunung Morui, di sebuah pulau kecil tak bernama di wilayah Timur (hal. 19). Elang yang merupakan seorang pakar klimatologi membutuhkan bantuan Asa yang ahli meteorologi untuk menyelamatkan masyarakat yang tinggal di desa terpencil itu. Sudah 90 hari hujan turun tanpa henti. Elang khawatir, jika terus berlanjut, lereng gunung akan longsor dan mengubur desa.
Selain mereka berdua, ada Wicky dari Basarnas, Dito yang merupakan seorang ahli geologi, dan Jose,seorang dokter dari Dinas Kesehatan, yang bersama-sama mendukung misi itu. Dari analisis Dito, mereka hanya memiliki waktu enam hari (hal. 17) untuk mengevakuasi dan mengamankan penduduk, yang ternyata tak semudah itu.
Penduduk Desa Bokudi tidak menyambut mereka dengan tangan terbuka. Hanya Bayu, kepala desa yang sempat mengenyam pendidikan di kota di luar pulau, yang bersedia bekerja sama. Rupanya penduduk yang tak mengenal dunia luar itu memiliki trauma atas pengunjung sebelumnya.
Tim melihat ada banyak masalah di desa Bokudi. Apalagi kemudian terjadi pembunuhan anggotanya. Rahasia demi rahasia pun terungkap.
Seru!
Membaca buku ini, tak urung langsung mengingatkan saya pada Melangkah-nya J.S. Khairen. Namun kali ini saya tak membaca sambil ngomel-ngomel. Hehehe. Penyuntingannya konsisten dan nyaman. Bahkan lebih nyaman ketimbang Teori Tawa. Saya merasakan perkembangan gaya penulisannya.
Tadinya saya sempat keder dengan jumlah halamannya—299 halaman di aplikasi iPusnas. Plus genrenya. Apa mampu, saya menyelesaikannya sebelum masa pinjam iPusnas habis? Dan ternyata bisa! Masih bisa membuat catatan untuk menulis ulasan, pula! Meski jelas, pasti ada saja yang terlewat. Seperti misalnya di halaman berapa Kai Elian ikut nongol jadi kameo! Hahaha.
Saya dibawa berpetualang ke pelosok desa yang unik. Yang untuk mencapainya perlu perjalanan panjang yang rumit. Tak hanya medannya yang sulit, ada unsur-unsur horornya pula!
Saat ada pistol di halaman 90, saya langsung bertanya-tanya, di halaman berapa pistol itu akan ditembakkan. Sayangnya saya tak yakin lagi kapannya, lupa mencatat dengan rinci. Sudah terlalu terhanyut pada rentetan kematian-kematian yang terjadi dalam cerita. Misteri demi misteri yang datang lagi dan lagi. Dan plot twist demi plot twist yang membuat saya makin gemas, penasaran mau dibawa ke mana.
"Multitema"
Membacanya di saat heatwave akhir Mei melanda Prancis dan kemudian menulis ulasannya di masa heatwave akhir Juni, saya sungguh merasa relate dengan bahasan dalam buku ini. Ya, segala tema supranatural diiringi dengan tema ilmiah. Jangan lupa bahwa tokoh utamanya adalah ahli meteorogi dan sahabatnya pakar klimatologi.
Isu sosial dan kesehatan mental turut mewarnai buku ini. Ada juga tema politik. Plus bumbu romansa. Atau justru salah satu unsur utama?
Silakan baca sendiri untuk memilah, apakah ujung cerita sebenarnya adalah keputusasaan akan sistem atau persoalan tak bisa beranjak dari perasaan di masa lampau. Atau dua-duanya?
Saya langsung terpikir akan inspirasi pawang hujan yang sempat viral beberapa waktu yang lalu saat membaca tema tentang hujan. Namun saya tak menyangka ada inspirasi dari musibah besar pencemaran merkuri di dalamnya. Layak lah, buku ini menjadi pemenang III Lomba Novel Thriller GPU x GWP 2022!
Alih Genre
Kepenasaran saya pada karya Kai Elian ini tak lepas dari perbedaan genre bukunya. Yang sebelumnya luwes dengan komedi di Teori Tawa, eh kok ini jadi ke thriller. Dan ternyata enak juga!
Saya hanya menyayangkan di akhir cerita, di mana ada adegan sempat-sempatnya membaca buku harian yang berlembar-lembar padahal sedang dalam kondisi terdesak waktu. Rasanya tidak logis. Memang latar cerita itu perlu. Namun apakah tidak bisa disampaikan di posisi lain?
Selesai membaca Vermilion Rain, saya jadi ingin membaca buku Kai Elian yang lain lagi. Saya lihat ada Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan dan Halte Alam Baka yang beda genre lagi! Sayangnya keduanya tak tersedia di iPusnas.
Bakal tambah lagi book shopping list saya saat mudik nanti nih. Siap-siap menerima omelan Paksu dah! Hihihi.

Komentar
Posting Komentar