Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Saya tidak merasa bisa memahami puisi. Saat ada yang merekomendasikan buku kumpulan puisi, saya cenderung skip. Sempat sih, beberapa kali mencoba, tapi lalu mengabaikan setelah beberapa halaman. Saat Butet ujian nasional bahasa Prancis dan meminta saya ikut membaca bahannya pun, saya memintanya memilah puisi yang ingin dia bahas saja. Tak semuanya.
Namun, saat mencari buku Rintik Sedu di iPusnas dan menemukan kumpulan puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang, saya tertarik membacanya.
Dialog Dua Karakter
Ketertarikan saya akan buku ini, tentu tak lepas dari kolaborasinya dengan sang Maestro, Sapardi Djoko Damono.
Puisi dalam buku ini merupakan dialog antara kedua penulis. Ya, kedua penulis. Dalam puisi pertama jelas disebutkan nama Nadhifa Allya Tsana, nama asli dari Rintik Sedu. Namun tak disebutkan apakah karakter kedua adalah Eyang Sapardi.
Puisi-puisi dalam buku ini dibagi menjadi 3 bagian:
- "Ketukan Pintu" membuka buku dengan semacam perkenalan. Menyiapkan pembaca masuk ke dalam inti bukunya dengan 3 puisi (2 puisi dan 1 prosa?)
- "Sila Masuk" merupakan bagian utama buku. Di sini pembaca dibawa menyimak dialog-dialog manis yang kadang nyeleneh.
- "Sampailah Sudah" menutup buku dengan satu puisi.
Selain 3 bagian isi itu, ada bab "Awalan", yang berisi semacam prakata dari Sapardi Djoko Damono.
Karena Nama Penulisnya
Mengapa saya mencari Rintik Sedu? Karena namanya yang unik! Hehehe.
Saya melihat namanya beberapa kali berseliweran di media sosial, entah untuk bukunya yang mana. Sayangnya waktu itu iPusnas sedang tidak bisa diakses. Karenanya, begitu iPusnas terbuka lagi, Rintik Sedu adalah salah satu nama yang saya cari.
Dari hasil pencarian di iPusnas, saya baru menyadari bahwa Rintik Sedu adalah penulis novel Geez & Ann. Saya sendiri baru (kembali?) sadar bahwa kisah yang sudah saya tonton dalam versi film itu berasal dari buku.
Meski memiliki kesan baik akan filmnya, saya tak lalu meminjamnya. Ada dua buku. Nanti dulu saja. Dan pilihan saya pun jatuh pada buku kolaborasi dengan Eyang Sapardi ini.
Saya tahu beberapa puisi Sapardi. Saya sudah membaca tuntas trilogi Hujan Bulan Juni dan Trilogi Soekram. Kedua trilogi saya baca di iPusnas. Namun saya belum mengenal Rintik Sedu selain dari uniknya nama penanya.
![]() |
| Sampul versi 2024 |
Ringan tapi Dalam
Saya tak yakin memahami puisi-puisi di dalam buku ini. Namun saya bisa menikmati buku ini dengan cukup nyaman. Mungkin karena model dialognya. Bahkan sepertinya kenyamanan membaca itu diperkuat oleh bentuk puisi: kalimat-kalimatnya pendek, dengan kata-kata yang sederhana, dan berima.
Saya suka mengikuti dialog yang terlihat ringan tapi dalam di puisi-puisinya. Saya mencari-cari di mana "pulang"-nya dan menemukan dua puisi (hal. 52 dan 55) yang diawali dengan kalimat seperti judul bukunya—apakah karena ada dua itu jadi diambil sebagai judul buku?
Puisi-puisi mengalir dengan nyamannya. Kecuali saat membicarakan tentang Bunda (hal. 64-65) dan Van Gogh (hal. 67). Saya tak melihat kaitannya dengan yang lain.
Mulai Remaja
Buku kumpulan puisi ini tipis saja. Hanya 110 halaman. Itupun masih diselipi ilustrasi yang digambar oleh Rintik Sedu sendiri. Rintik Sedu juga yang mendesain sampul bukunya.
Oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, buku terbitan Februari 2020 ini dikategorikan untuk pembaca mulai usia 15 tahun. Dan tetap asyik dibaca oleh yang lebih dewasa, tentunya!


Komentar
Posting Komentar