Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi — Maman Suherman
Buku Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi ini merupakan buku yang paling lama saya perjuangkan di iPusnas. Saya pertama meminjamnya April 2025. Kemudian ada masalah dengan iPusnas. Padahal saya belum selesai membacanya.
Setelah itu, saya kesulitan koneksi ke iPusnas. Saat bisa, saya bisa meminjam, tapi tak berhasil mengunduh bukunya. Jadi meski saya tak bisa membacanya, di daftar pinjam tetap tercantum.
Saya sempat sampai mengontak iPusnas lho. Katanya sih karena saya di luar negeri, akses saya diblok untuk alasan keamanan. Sedih nggak sih?
Karenanya, begitu diumumkan bahwa iPusnas bisa diakses kembali April lalu—setahun kemudian!, buku karya Kang Maman Suherman ini menjadi sasaran pencarian saya nomor satu! Dan berhasil!
Kumpulan Puisi
Buku ini adalah kumpulan puisi. Puisinya singkat-singkat saja. Tata letaknya yang unik dengan halaman berwarna, membuatnya menarik, makin nyaman dan mudah untuk dibaca.
Buku 170 halaman yang diterbitkan Grasindo pada tahun 2020 ini terbagi dalam 3 bab, ditambah prolog, epilog, dan lampiran.
Bab 1, "Cinta adalah Jawabannya", berisi puisi-puisi percintaan yang romantis. Bab 2: "Problema Cinta", seperti judulnya, membicarakan mengenai saat-saat datang masalah dalam percintaan. Bab 3: "Kandas dan Terhempas", membahas mengenai perpisahan.
Beranjak
April 2025 itu saya mencari nama Maman Suherman di iPusnas karena ada KLIPers yang bercerita tentang acara pertemuan (bedah buku?) dengan sang penulis. Salah satunya menjadi panitia, malahan.
Saya sudah mengenal nama Kang Maman dari buku Re: dan peREmpuan yang sampai saat ini belum mampu saya baca. Temanya terlalu berat untuk saya. Kedua buku tersedia di iPusnas. Juga beberapa buku lain. (Coba mencari dengan kata kunci "Maman Suherman" dan "Kang Maman") Namun saya memilih buku yang saya tak tahu sebelum meminjamnya bahwa isinya kumpulan puisi ini. Tertarik karena judulnya.
Saat membaca bagian prolog yang menceritakan tentang pesan ibunya sebelum pergi merantau, belajar di ibu kota, saya sempat mengira bahwa buku ini berisi pernyataan cinta pada ibunda. Ternyata bukan. Buku ini benar-benar membicarakan tentang mantan. Mantan gebetan maupun mantan pasangan.
Jangan simpan dalam hati, tapi simpan dalam doa
(hal. 57)
Saya yang cuma punya Paksu sebagai mantan pacar—dan nggak pernah naksir yang lain segitunya—tak merasa relate secara langsung. Tapi buku ini bisa jadi pegangan saat kehilangan. Apapun itu. Tak hanya soal pasangan. Mengingatkan kita untuk berusaha menerima kenyataan, menyimpan semua dalam kenangan, menjadikannya bekal untuk beranjak ke depan.
Buku yang Manis
Dalam daftar isinya, buku ini dituliskan dibagi menjadi bagian Prolog, Bab 1, Bab 2, Bab 3, Epilog, dan Lampiran Cinta. Dalam isi bukunya sendiri, bagian Epilog terselip, tak terlihat terpisah menjadi bab tersendiri seperti Prolog, dan bagian lampiran disebut sebagai "Bab 4: Lampiran Cinta"!
Saya sempat bertanya-tanya: ada kesalahan kah?
Berbeda dengan bagian lain yang berwarna dan berilustrasi, Lampiran Cinta menampilkan latar putih dengan teks hitam. Tanpa ilustrasi! Bukan hanya itu. Bagian ini berbentuk prosa, bukan lagi puisi.
Terus terang saya kurang menikmati bagian ini. Banyak teori! Ada filsuf, psikolog, seniman, ... ah, saya lebih suka bagian puisi yang kadang mendayu manis atau menohok tajam, yang menghadirkan senyum penyemangat atau senyum tersindir di bagian-bagian sebelumnya.
Buku yang diilustrasi Regedaily ini manis sekali. Cocok untuk jadi bacaan santai. Bisa dibaca cepat ... asal nggak ketemu episode macetnya iPusnas seperti saya!

Komentar
Posting Komentar