L'Odeur des Clémentines Grillées — Lee Do-woo

Sejak Les Petites Échoppes des Jours Heureux, saya tak meminjam buku berbahasa Prancis di DLKL. Tak ada yang menarik. Rata-rata koleksi DLKL dalam bahasa Prancis adalah buku-buku serius. Meski saya merasa bosan dengan feel good novel, saya malas juga membaca buku yang berat.

Heu, jadi maunya apa sih? Hihihi.

Bukan berarti lalu saya stop pinjam buku di DLKL ya. Tetap pinjam, tapi dalam bahasa Inggris. Sampai akhirnya saya menemukan L'Odeur des Clémentines Grillées karya Lee Do-woo.

Pulang Kampung

Menceritakan tentang Mok Haewon yang pulang ke kampung halamannya di Bookhyun. Dia biasa menghabiskan musim dingin di rumah almarhum neneknya yang ditinggali oleh bibinya, Sim Myeongyeo. Adik kandung ibunya itu adalah seorang penulis ternama yang mengelola penginapan milik keluarga sejak sang nenek meninggal dunia.

Kali ini Haewon mudik lebih cepat dari biasanya. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai guru di tempat bimbingan menggambar di Seoul. Myeongyeo tidak mengerti mengapa Haewon meninggalkan mata pencaharian yang sudah mapan itu.

Haewon kemudian mendapati bahwa bibinya sudah sejak beberapa waktu menutup penginapan. Tak mampu mengurus, katanya. Keuangan terbatas, Haewon pun mencari pekerjaan. Kebetulan, Eunseop, tetangga yang sekaligus teman sekelasnya semasa SMA, belum lama membuka toko buku. Haewon pun bekerja di sana.

Di toko buku Goodnight, Haewon berkenalan dengan para anggota klub buku yang unik. Klub bukunya unik, karena tak selalu membahas tentang buku pada pertemuannya. Para anggotanya juga unik, terdiri dari Seungho yang masih usia SD hingga Sujeong yang merupakan sahabat Myeongyeo.

Haewon yang pada dasarnya tertutup dan tak suka bergaul sejak SMA, menjadi akrab dengan anggota klub buku. Perlahan, berbagai peristiwa terjadi, berbagai cerita mengalir, berbagai rahasia terungkap.

Adaptasi Drakor

Merasa familiar dengan nama-nama karakternya? Toko buku Goodnight dengan klub bukunya? Penggemar drakor? Fans Park Minyoung? Atau Seo Kangjun?

Ya, buku inilah yang menginspirasi drakor When the Weather is Fine yang dirilis tahun 2020. Inti ceritanya sama. Nama tokoh-tokoh dan latar, baik lokasi maupun pewaktuannya pun dijaga relatif sama. Beberapa detil, entah dengan alasan apa, dibuat berbeda dengan buku yang pertama kali terbit di Korea Selatan dengan judul 날씨가 좋으면 찾아가겠어요 pada 2018 ini. 

Terus terang drakornya meninggalkan kesan bahwa saya kurang menikmatinya. Seingat saya sih lambat, kurang ritmik. Saya sudah lupa detilnya. Namun itu yang membuat saya jadi makin tertarik membaca buku ini. Selain karena Haewon yang guru gambar, dan bukannya guru musik seperti dalam drama, tadi. Dan lega, karena buku ini bukan feel good novel penuh pesan moral pengembangan diri yang ngetren akhir-akhir ini.

Tous ceux qui souffrent ne renoncent pas au monde, et tous ceux qui sont encore là ne restent pas parce qu`ils ont moins souffert, mais parce qu'ils ont tenté de vivre malgré tout. 
(Chapitre "Départ pour Hayang par la Route du Sud")

Buku ini membahas mengenai persahabatan dan ikatan keluarga yang tidak selalu semulus yang diharapkan. Ada sedikit tema kekerasan yang tidak dimunculkan dalam gambar. Ada juga tema pengampunan. Semua disajikan secara sederhana tetapi tetap indah dan puitis, serta mengandung humor yang menyegarkan. 

Toko Buku Unik

Dan tentu saja, buku ini membahas tentang buku!

Toko buku Goodnight tidak hanya sekedar latar lokasi cerita. Toko buku ini merupakan salah satu karakter penting dalam novel. Pilihan Eunseop untuk mengutamakan penjualan buku autoedition menggelitik saya. Hobinya menulis blog curhat (privat?) sejalan dengan blog curcol saya. Heu....

Saya sempat penasaran akan buku-buku yang disebutkan di dalam cerita. Beberapa memang saya kenal, tapi beberapa yang lain rasanya aneh. Meski tak bisa saya temukan di Google, bisa jadi benar-benar ada di Korea Selatan sana. Kan autoedition ini ya? Namun kemudian di akhir buku penulis Lee Dowoon menjelaskan bahwa buku-buku itu adalah buku yang akan dibaca penulis dengan senang hati ... jika benar-benar ada!

Ni un livre ni personne ne pouvait alléger la souffrance de quelqu'un. Néanmoins, cela ne signifiait pas que tout cela ne servait à rien... Ce n'était pas pour guérir une douleur. C`était peut-être pour nous dire que la souffrance était toujours là, qu'on le savait tous. mais que, malgré tout, on lisait et on tentait de trouver les mots pour se consoler.
(Chapitre "Jusqu'a Nos Retrouvailles")

Penulis juga menjelaskan beberapa hal yang menginspirasinya dalam menulis novel. Ada tentang anak lelaki yang tinggal di gunung Guwol yang dijadikannya dasar karakter Eunseop, toko buku Segi yang diadaptasinya menjadi toko buku Goodnight, klub Goodnight yang ingin dibentuknya untuk mengumpulkan orang-orang insomnia dan yang suka bergadang, serta toko roti Sisterfield yang dijadikannya judul buku di dalam cerita.

Wangi Jeruk Panggang

Membaca buku ini membuat saya ingin membaca buku Lee Dong-woo yang lain. Sayang sekali belum ada karyanya yang lain di DLKL. Bahkan novel versi berbahasa Prancis ini adalah satu-satunya yang tersedia. Belum ada versi bahasa lain.

Saya penasaran dengan pilihan judul untuk versi terjemahan bahasa Prancis oleh duo Lee So-yeong dan Crystel Pinçonnat yang maknanya adalah "aroma jeruk klementin panggang". Mungkin karena kebanyakan adegan terjadi di dalam toko buku Goodnight yang pasti menjaga aroma yang ditinggalkan oleh jeruk yang dipanggang oleh kakek Seungho.

Versi bahasa Inggris mengambil terjemahan langsung I Go to You when the Weather is Fine. Demikian pula versi terjemahan bahasa Indonesia oleh penerbit Haru.

When the weather is fine. Sebuah kalimat yang biasa diucapkan saat tak ada niatan untuk memenuhi janji.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Pergi Hari Ini - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Je Reviendrai avec la Pluie — Ichikawa Takuji

Detektif Conan (Vol. 100) — Aoyama Gosho