Bristol — Jean Echenoz
Sampai saat ini, saya masih biasa menunggu keluarnya format poche (versi pocket, ukuran kecil, semacam buku saku) untuk membeli buku. Sabar-sabar menunggu paling tidak satu tahun sejak rilisnya, lah. Untuk menghemat dana, tentu saja! Kecuali saat bertemu langsung dan mendapat tanda tangan penulisnya, serta buku-buku untuk Club Lecture yang seringkali merupakan keluaran baru.
Karya-karya Jean Echenoz adalah satu-satunya yang mutlak saya relakan untuk membeli versi broche (ukuran "normal" paperback)-nya tanpa syarat. Novel Bristol sudah saya lirik sejak rilisnya Januari 2025 lalu. Namun akhirnya baru bisa terbeli November untuk menghadiahi diri saat ulang tahun. Dan ya, itupun terlambat!
Robert Bristol, sang Sutradara
Menceritakan tentang Robert Bristol, seorang sutradara film yang ingin mengadaptasi sebuah novel. Sang penulis setuju, dengan syarat mengambil seorang aktris muda pilihannya, Celeste Oppen, sebagai pemeran utamanya. Bristol pun sepakat.
Syuting film berlokasi di padang pasir di Afrika. Suatu hari, gerombolan separatis mendatangi lokasi itu. Kru film sempat khawatir. Namun ternyata mereka datang untuk menawarkan diri membantu pemfilman. Mereka bersedia menjadi figuran yang jelas lebih meyakinkan, dengan senjata asli dan bukan tiruan seperti properti film layaknya.
Masa penayangan tiba, film gagal menarik penonton. Bristol berniat untuk pause. Tak disangka, pimpinan grup separatis mendatangi apartemennya. Dia mengabarkan bahwa Celeste berada di propertinya.
Come Back-nya Penulis Favorit
Ya, saya masih menjaga "tradisi" membeli buku terbitan Editions Minuit sebagai hadiah ulang tahun. Tak selalu penulis yang sama, tentu saja. Bahkan tahun lalu saya membeli bekas: Sans Etat d'Ame-nya Yves Ravey yang ternyata kemudian Butet juga membacanya dan suka!
Tadinya saya sudah berniat membeli Maison Vide karya Laurent Mauvignier. Sayang sekali saya terlambat. Saya datang saat novel tebal itu telah diumumkan menjadi pemenang Goncourt 2025. Stok habis di berbagai toko. Toko daring sekalipun! Karenanya, saya memutuskan untuk mengadopsi Bristol yang sudah saya tunda-tunda pembeliannya.
Penundaan itu bukan (hanya) karena persoalan dana. Selain Les Eclairs (2021) yang merupakan versi opera dari Des Eclairs (2010)—yang tentu saja sudah saya miliki—serta novel pendek Baobab yang tidak dikomersilkan dan hanya dijadikan hadiah—dan saya melewatkannya (hiks)—pada tahun 2022, Jean Echenoz tak menelurkan karya. Tak ada kabarnya di dunia maya juga. Saya pikir beliau sudah pensiun. Apalagi mengingat beliau kelahiran 1947. Saat saya mengutarakan niat membeli bukunya, suami saya berkomentar, "Yakin, masih beliau yang menulis sendiri?"
Entah karena terpengaruh komentarnya, saya merasa Bristol berbeda dengan buku-buku Jean Echenoz sebelumnya. Tak ada kalimat panjang berbaris-baris dengan entah berapa koma yang saya temui. Paragraf terpanjang hanya 1,5 halaman.
Apakah seiring waktu, penulis mengikuti perubahan generasi pembaca? Atau itu menunjukkan caranya mengungkapkan pikiran yang sejalan dengan bertambahnya usia? Atau mungkin saya sudah terbiasa membaca gaya tulisnya saja? Yang jelas Jean Echenoz masih terlihat sehat dan awas di berbagai wawancara untuk mempromosikan bukunya.
Humor Gelap
Yang jelas juga, saya masih menikmati bukunya. Masih tergeli dengan humor-humor gelapnya.
Saya masih terbengong-bengong dengan kalimat pertama bukunya yang menceritakan bagaimana Bristol menyaksikan jatuhnya sesosok laki-laki tak berpakaian dari lantai atas bangunan apartemennya saat dia baru saja keluar, tapi tak acuh dan melanjutkan perjalanannya. Saya ingin tahu, apa peran semua tokoh yang ada dalam cerita. Saya bertanya-tanya apa hubungan keseluruhan buku dengan kisah masa lalu Celeste.
Tentu saja, saya terbawa penasaran akan maksud dari permainan kata pemimpin kelompok separatis tentang nasib Celeste yang sangat-sangat ambigu. Benarkah Celeste sekedar berlibur atau disandera? Dan tak heran dengan akhir ceritanya yang ... zonk! Lah? Ini buku ngomongin apa sih? Hahaha. Termasuk tak adanya kejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Celeste!
Masih Menunggu
Novel berbahasa Prancis 206 halaman ini saya selesaikan dengan cukup cepat. Sampai saat menulis ini, saya belum menemukan versi terjemahannya dalam bahasa apapun. Memang baru satu tahun terbit juga sih. Dan menurut saya, karya-karya Jean Echenoz memang "sangat Prancis". Heu .... Kurang komersil, lah!
Saya sendiri masih setia menunggu karya-karya berikutnya dari penulis yang sempat meraih Goncourt pada tahun 1999 dengan novel Je M'en Vais yang sempat saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berkolaborasi bersama Paksu dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri dengan judul Aku Pergi, yang sayangnya saya tidak memiliki eksemplarnya dan tidak bisa menemukannya lagi di pasaran.
Kalau ada yang punya, atau memiliki informasi bagaimana memperolehnya, colek-colek saya ya!

Komentar
Posting Komentar