Minuit dans la Ville des Songes — René Frégni
Sudah lebih dari satu tahun sejak saya membeli novel Minuit dans la Ville des Songes (Tengah Malam di Kota Impian) karya René Frégni ini. Saya sudah sempat mulai membacanya sekian waktu yang lalu, lalu tersela oleh buku lain. Pernah mencoba melanjutkan lagi, tetapi tak sampai tuntas. Baru akhir Februari membaca dengan lebih runut sampe kemudian berhasil menyelesaikannya awal Maret kemarin ini.
Perjalanan Literasi
Menceritakan tentang René, seorang penulis yang tinggal di tengah hutan di sebuah bukit di Manosque, dekat Marseille, Prancis bagian selatan. Dia mengenang masa mudanya.
Di saat remaja, René adalah anak yang sangat bandel. Membolos dan berkelahi merupakan kebiasaannya. Sudah beberapa kali dia harus pindah sekolah karena dikeluarkan. Dari sekolahnya yang terakhir, René dikeluarkan karena meninju kepala sekolah yang menegur dan hendak menamparnya!
Tak ada lagi sekolah yang mungkin menerimanya, René pun didaftarkan ke sekolah jarak jauh. Seminggu sekali dia menerima amplop berisi materi pelajaran yang terutama menekankan pada bahasa. René merasa lega bisa belajar di rumah karena dia bisa mengenakan kacamata dengan bebas. Memang sebenarnya dia sudah membutuhkan kacamata sejak kecil. Namun dia tak mau lagi mengenakannya di luar setelah diejek teman-temannya pada usia 6 tahun.
René tak berhasil menyelesaikan membaca buku La Cousine Bette karya Honoré de Balzac (hal. 35) yang merupakan salah satu tugas dari sekolah jarak jauhnya. Buku yang diberikan sekolah dirasanya membosankan. Namun suatu hari, saat dia tak sengaja menemukan biografi Lucky Luciano (hal. 38), dia tak bisa melepaskannya hingga menyelesaikannya. Dan sejak itu, dia tak berhenti membaca!
Kisah Perjalanan Hidup
René Fregni saya kenal pertama kali dari novel Les vivants au prix des morts yang meraih Prix des Lecteurs Gallimard 2017. Sejak itu, saya membeli bukunya tiap kali terbit baru. Yang ini baru yang ketiga sih. Saya membeli ketiga buku saat penulis hadir di Festival Livres Mouans Sartoux juga. Jadi ya: ketiga bukunya yang saya miliki adalah versi broché bertanda tangan!
Awalnya saya pikir buku ini murni fiksi. Namun kemudian saya ragu saat ada nama Fregni yang merupakan nama keluarga penulis disebutkan. Faksi kah ini? Atau malah autobiografi? Saat saya cek beberapa informasi mengenai biodata René Fregni, banyak sekali unsur yang sama dengan novel.
Penerbit Gallimard menyebutkan genre buku ini adalah romance et récits, roman dan kisah. Membacanya memang seakan mendengar René Fregni mengisahkan perjalanan hidupnya. Mengalir. Dari masa remaja, saat dia mendekam di penjara militer, saat jadi buronan dan melanglang buana, hingga kemudian kembali ke Prancis merindukan ibunya.
Ya, kisahnya panjang. Tak hanya mengenai kesukaannya membaca dan perjalanannya menjadi penulis. Tak hanya kisah pengembaraannya. Ada kisah cintanya pada ibundanya yang terpancar di mana-mana, yang tetap saja tak menghalanginya melakukan hal-hal yang membuat sang ibu berduka. Dan tentu saja, kisah cintanya pada buku.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang tidak rumit dan banyak menyelipkan humor, meski kebanyakan humor gelap. Saya tertawa saatmembaca bagian di mana René, saking terlihat selalu membaca dan memiliki wawasan luas akan kesusastraan, diminta membantu membuat resume buku oleh siswa SMA (hal 169). Padahal dirinya sendiri tak tamat SMP! Dan itu kemudian bisa jadi sumber penghasilannya selama beberapa waktu sebelum akhirnya harus melarikan diri lagi.
Referensi Bacaan
Buku ini mengandung banyak referensi bacaan. Setelah melihat beberapa disebutkan dalam buku, saya mencatatnya. Daripada dibuang, saya cantumkan saja sekalian ya!
- Colline, Jean Giono (hal. 63)
- Le mythe de Sisyphe, Albert Camus (hal. 66)
- Dictionnaire poche Larousse (hal. 68)
- J'irai cracher sur vos tombes, Boris Vian (hal. 70)
- Le Vieil Homme et la Mer, Ernest Hemingway (hal. 72)
- Souvenirs de la Guerre Revolusionaire, Che Guevara (hal. 76, 80)
- Discours de la Revolution, Fidel Castro (hal. 80)
- L'Ecume des Jours, Boris Vian (hal. 96, 204)
- Une Vie, Maupassant (hal. 98)
- Emile ou De l'Education, Rousseau (hal. 99)
- Propos sur le Bonheur, Alain (hal. 99)
- Le Hussard sur le Toit, Jean Giono (hal. 104, 164, 168)
- Crime et Chatiment, Fiodor Dostoïevski (hal. 133)
- Les Chants de Maldoror, Lautréamont (hal. 137)
- Poésies de Rimbaud (hal. 137)
- Le Grand Meaulnes, Alain-Fournier (hal. 138)
- La Condition Humaine, 141
- Ma Boheme, 146
- Cent Ans de Solitude, 148, 160
- L'Etranger, 152, 204
- Buku-buku karya Marquis de Sade (hal. 158)
- Les Miserables, 160
- Sans Famille, 160
- Les Grands Chemins, Un Roi sans Divertissement, Les Ames Fortes, 167
- Voyages au Bout de la Nuit, 198
- Mort à Credit, 198
- Seminaire, 202
- Des Souris et des Hommes, 204
- Le Facteur Sonne Toujours Deux Fois, 204
- Buku-buku karya Hemingway dan Jack London (hal. 204)
- Le Marin de Gibraltar, 204
- Le Procès, 215
Banyak ya!? Mungkin ada yang terlewat, pula, karena awalnya saya tak mencatat bacaan René yang tak menyebutkan judulnya.
Dari semua itu, baru 3 yang saya baca: L'Etranger, L'Ecume des Jours, dan Le Hussard sur le Toit. Plus kamus Larousse, yang tentunya tidak saya baca sepenuhnya dari awal sampai akhir, seperti halnya René!
Membaca sebelum Menulis
Buku ini memang menarik dan enak dibaca. Kalau saya membutuhkan waktu panjang untuk menyelesaikannya, itu lebih karena saat membelinya saya baru saja kembali dari Indonesia dan membawa banyak buku baru dari sana.
Kemudian, tentu, saya selalu mengutamakan buku untuk Club Lecture. Selain itu saya tak hanya membeli satu buku di Festival Livres yang sama. Buku satu lagi, Suite Inoubliable, juga tertunda pembacaannya tuh. Hehehe.
Buku ini mengingatkan untuk terus membaca, untuk terus memperkaya wawasan literasi saya. Membaca buku ini menyemangati saya untuk terus menulis meski belum terpikir untuk menerbitkan buku.
Perjuangan René Fregni dari sejak memutuskan menulis hingga bisa menerbitkan buku, membangkitkan semangat saya untuk terus bekerja keras dalam usaha apapun.
Tolong sediakan tombol "like" dong ^^
BalasHapusDan akupun langsung googling nyari info soal tombol like 😁 Tapi nggak usah deh. Udah sengaja pindah ke blog biar ga berharap di-like kok malah mbalikin masalah! 😂😂
Hapus