Trésor Caché — Pascal Quignard
Setelah membatalkan kehadiran di pertemuan Club Lecture bulan Oktober karena mengantar Butet ke porte ouverte MoPA, saya sempat khawatir akan harus membatalkan kehadiran lagi Februari ini karena mengantar Butet ke atelier Gobelins. Ternyata kehadiran saya diselamatkan oleh harga tiket yang tak terjangkau di hari Sabtu, sehingga kami harus pulang lebih cepat dari jadwal dan sudah bisa kembali ke rumah di Jumat malam!
Buku yang dibahas bulan ini adalah Trésor Caché karya Pascal Quignard.
Harta Karun
Menceritakan tentang Louise, seorang penerjemah lepas waktu yang berusia 50an tahun. Louise baru saja kehilangan kucingnya. Saat hendak menguburkan kucingnya itu di halaman belakang rumahnya, Louise menemukan harta karun berupa perhiasan dan uang logam emas.
Dengan berbekal uang hasil penjualan beberapa logam emas, Louise bertualang. Di Italia, dia bertemu dengan Luigi, seorang pria berusia 60an tahun. Mereka sempat terpisah beberapa lama, sebelum kemudian bertemu lagi dan memutuskan hidup bersama.
Luigi, yang ternyata bernama asli Ludwick, memiliki seorang ibu yang tinggal tak jauh dari mereka. Tak lama mereka bersama, ibu Ludwick meninggal dunia. Memang sang ibu sudah sakit. Tak urung, kepergian ibunya membuat Ludwick kehilangan semangat hidup. Kesehatannya jatuh menurun.
Louise membawanya ke Prancis untuk berobat. Namun Ludwick tak bertahan. Tak lama sesudahnya, ayah Louise meninggal dunia. Menyusul berikutnya adalah mantan suaminya. Setelah itu, salah satu dari dua kucing milik ibu Ludwick yang dibawanya dari Italia. Kucing yang satunya lagi? Menghilang!
Kebahagiaan di Balik Kemalangan
Saya belum mengenal Pascal Quignard sebelumnya. Ternyata karyanya sudah buanyaaak sekali. Sudah meraih banyak penghargaan sastra pula. Antara lain Grand prix du roman de l'Académie française tahun 2000 untuk Terrasse à Rome dan Prix Goncourt tahun 2002 untuk Les Ombres Errantes.
Tapi saya tak sendiri. Ada banyak peserta pertemuan hari itu yang belum pernah membaca bukunya sebelumnya. Dan tidak cuma saya yang menjawab tidak, saat Nathalie, animatrice klub, bertanya apakah kami menyukai buku yang baru saja terbit Januari 2025 yang lalu itu.
Saya bukannya tidak suka, tapi jelas saya tak bisa bilang kalau saya menyukainya. Sebagian peserta berpendapat sama: buku ini rasanya muram sekali. Kematian demi kematian datang berturut-turut. Membacanya di musim dingin nan mendung menambah kegalauan tak jelas. Hehehe.
Nathalie berpendapat lain. Sesuai judulnya, buku ini banyak mengandung "harta karun". Di balik kesedihan, ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang tersembul. Hal-hal kecil yang sering tak kita perhatikan, karena terlalu fokus pada kemalangan.
Saya sendiri memang sempat berharap bahwa buku ini akan membicarakan lebih panjang dan lebar tentang harta karun yang ditemukan di awal cerita. Ternyata tidak sesederhana itu. Atau sebaliknya: harta tersembunyinya lebih sederhana?
Bacaan yang Menantang
Kalau saya tidak bisa bilang tidak suka, itu karena buku ini menarik sekali.
Gonta-ganti sudut pandang? Saya suka, membaca buku seperti itu. Namun yang ini, ada di level lain lagi! Pascal Quignard menulis buku ini dengan sudut pandang berganti-ganti, bahkan di dalam satu paragraf! Dari Louise, elle, tahu-tahu berubah menjadi je. Awalnya, saya pikir memang ada narator. Ternyata bukan!
Pewaktuan yang tidak linear? Sudah biasa lah ya! Namun di buku ini, bukan hanya waktu yang lompat-lompat. Antara kenyataan, imajinasi, dan mimpî bercampur-campur tanpa batas yang jelas.
Ada banyak sekali nama di buku ini. Lokasi ceritanya saja berpindah-pindah. Penulis juga menggunakan beberapa nama, menggonta-gantinya dengan terjemahan dalam bahasa berbeda. Dan itu tidak hanya untuk Luigi yang ternyata bernama asli Ludwick, yang kemudian berubah menjadi Ludovic saat berada di Prancis.
Di beberapa bagian ada kalimat atau alinea yang saya rasa aneh. Tak bersambung dengan alinea lain. Tak ada hubungannya dengan cerita secara keseluruhan. Ternyata memang, menurut Nathalie, begitulah gaya yang ingin ditampilkan Pascal Quignard dalam menyusun buku ini.
Saya jadi berbesar hati karena perlu beberapa saaat untuk akhirnya bisa masuk ke dalam cerita. Saya tak mencatat dan memahami semua istilah-istilah sastra yang kemarin disampaikan, tetapi jelas bahwa membaca buku 304 halaman ini merupakan sebuah tantangan tersendiri.
Penerimaan dan Syukur
Kalau saya sulit menemukan si harta karun, saya rasa karena benar-benar baru saja menyelesaikan buku itu sebelum pertemuan. Praktis saya menutup buku dan langsung bersiap berangkat. Saya belum sempat mencerna. Saya terpaku pada kata terakhir: "vide", kosong!
Dari diskusi bersama klub, saya tetap tak bisa melihat kisah di buku ini sebagai kisah bahagia. Sedih, juga tidak tepat, sih. Saya menyimpulkan bahwa buku ini membicarakan mengenai penerimaan. Mensyukuri keadaan. Mensyukuri kekosongan, kehampaan, kesepian ... untuk kemudian diisi dengan hal yang menyenangkan.
Hmmm... Ternyata dari mengikuti pertemuan klub buku pun bisa mengingatkan saya untuk selalu berusaha melihat sisi positif dan tidak terlalu fokus ke sisi negatif saja ya!?
Oh ya, buku ini menandai tepat 10 tahun sejak pertama kali mengikuti Club Lecture di bulan Februari 2015, yang membahas buku Je Reviendrai avec la Pluie.
Komentar
Posting Komentar