The Dictionary of Lost Words — Pip Williams

Sebenarnya, sudah beberapa lama saya melirik buku The Dictionary of Lost Words karya Pip Williams ini. Saya pertama kali tertarik saat melihatnya dalam versi terjemahan bahasa Prancis. Tentu saja saya enggan membelinya, ingin mencari versi aslinya. Namun kemudian terlewat atau tergeser oleh buku lain. 

Karenanya, saat kemudian menemukan versi aslinya di Fnac dan Butet memintanya, langsung saya setujui. Padahal bacaan Butet masih menumpuk. Saya juga sih! Hehehe.

Kata-kata yang Dilupakan

Menceritakan tentang Esme yang dibesarkan oleh ayahnya. Sedari kecil, Esme biasa ikut ayahnya bekerja. Harry Nicoll merupakan salah satu anggota Scriptorium, tim penyusun Kamus Bahasa Inggris Oxford yang dikoordinir oleh James Murray. 

Esme biasa dibiarkan bermain sendiri di bawah meja kerja selama ayahnya bekerja. Suatu hari, Esme menemukan secarik kertas berisi sebuah kata: "bondmaid". Bukannya memberi tahu ayahnya, Esme langsung menyimpannya. Dia pikir, kata itu memang sengaja dibuang. Memang tim Scriptorium tidak begitu saja menerima semua usulan kata untuk dimasukkan ke dalam kamus. Kata yang tak jelas sumbernya, atau dinilai terlalu vulgar, tidak akan dimasukkan dan dibuang.

Esme merasakan ketidakadilan dalam seleksi kata tersebut. Sejak menemukan kata tadi, Esme jadi suka mengumpulkan kata-kata lain yang dibuang. Dia menuliskannya dalam secarik kertas, selayaknya usulan kata untuk tim Scriptorium. Esme juga mencatat kata-kata yang didengarnya dari Lizzie, pembantu di rumah Murray yang telah mengasuhnya sejak kecil. Esme menyimpan kertas-kertas itu dalam sebuah koper di bawah tempat tidur Lizzie. Dia ingin membuat kamus khusus untuk kata-kata yang dilupakan itu.

Semakin besar, Esme memperluas pencarian katanya. Salah satunya adalah dengan mengunjungi pasar. Di sana dia berkenalan dengan Mabel, seorang pedagang, dan Tilda, seorang aktris teater. 

Sejak berkenalan dengan dua perempuan itu, terjadi banyak perubahan dalam hidup Esme.

Feminisme

Saat tertarik pada buku ini, saya hanya melihat sisi penyusunan kamus saja. Namun Butet sudah mengenal buku ini lebih jauh. Dia tahu bahwa bahasannya jauh lebih luas, dan cukup dalam.

Awal buku terasa manis. Hubungan Esme dengan Harry sangat karib. Keterlibatan Ditte yang merupakan ibu baptis Esme menambal absennya profil ibu. Harry dan Ditte adalah dua karakter dengan pandangan sangat moderen dan terbuka di latar cerita yang bermula di tahun 1886 itu. 

Perlahan, saya merasakan nuansa arah bukunya. Sejak pertanyaan mengenai arti kata "bonmaid" yang ditemukan Esme, lalu perjalanan cerita seiring beranjak umurnya. Saat Esme mulai mempertanyakan mengapa kata yang dikutip dari kalimat seorang perempuan tak dimasukkan ke dalam kamus, makin jelas muatan feminismenya.

Memang dari awal sudah diceritakan bahwa Esme tidak dibesarkan dalam lingkungan relijius. Tak urung saya sempat takut, akan dibawa ke mana buku ini, saat kemudian Esme ternyata berani bablas dalam hubungannya dengan Bill, adik Tilda. Sangat kontras dengan kenaifan dan kepanikannya waktu pertama kali mengalami menstruasi.

Esme digambarkan sebagai aktivis feminisme yang tidak aktif. Eh? Gimana sih? Heu ... Esme mendukung gerakan itu, tapi tidak sampai ikut demonstrasi atau mogok makan. Menyebarkan pamflet pun dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Esme feminis dalam tindakan dan pilihan jalan hidupnya. Esme feminis dalam dirinya.

Diilhami Peristiwa Nyata

Namun saya tidak kecewa. Novel ini benar-benar didasarkan dari perjalanan penyusunan Oxford English Dictionary yang sebenarnya. Saya baru tahu betapa ribetnya penyusunan kamus hingga keluar cetak. Paling tidak, untuk saat itu. Di bagian akhir buku, penulis mencantumkan sejarah penyusunan kamus juga perjalanan perempuan Inggris (dan Australia) memperjuangkan hak pilihnya.

Banyak tokoh yang ada di novel yang benar-benar ada. Bahkan kata "bondmaid"-pun benar-benar tak muncul di kamus keluaran 1901 itu! Penyebabnya tentunya bukan karena disimpan oleh Esme. Esme dan ayahnya adalah tokoh yang sepenuhnya fiktif.

Di menjelang akhir buku pun, dikisahkan tentang penyebab lain—tak dijelaskan apakah itu berdasar versi sebenarnya—mengapa "bondmaid" tak masuk dalam kamus. Apa itu? Baca saja sendiri, ya!

Akhir yang ... Menarik!

Pada akhirnya, buku ini tetap manis. Meski ada periode peperangan yang menyedihkan, perjalan kisah Esme yang cukup berliku membuat penasaran. Ada beberapa unsur yang tak sesuai dengan prinsip saya. Namun harus disadari, memang ada kondisi demikian di luar sana. 

Meski gemas, harus saya akui bahwa akhir cerita merupakan pilihan yang ... menarik. Saya tak bisa menemukan kata lain yang lebih tepat. Dan saya tak bisa memikirkan alternatif akhir cerita yang lebih menarik.

Buku ini saya sarankan untuk pembaca mulai remaja. Beberapa penggunaan kata-kata yang cukup vulgar—kebanyakan anatomi seksual, berikut pembahasannya, menurut saya kurang cocok untuk anak di bawah 13 tahun. Meski mungkin pada kenyataannya, sudah banyak anak-anak yang lebih muda yang mengenal, dan bahkan menggunakannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Je Reviendrai avec la Pluie — Ichikawa Takuji

Kita Pergi Hari Ini - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Detektif Conan (Vol. 100) — Aoyama Gosho