Celui qui Revient — Han Kang

Sebenarnya, saya tak biasa mengikuti kabar pemenang Nobel sastra. Pada saat Annie Ernaux yang orang Prancis memenanginya tahun 2022 lalu dan bahkan jadi bahan ujian baccalauréat Français-nya Butet pun, saya tak jadi mengejar membaca buku-bukunya. Namun Han Kang berbeda.

Bukan. Bukan cuma karena saya penggemar drakor. Han Kang sudah menarik perhatian saja sejak bukunya yang terbaru, Impossibles Adieux, meraih penghargaan sastra Prix Medicis untuk buku terjemahan.

Sambil menunggu terbit edisi poche-nya Maret nanti—demi berhemat, saya membaca Celui qui Revient (소년이 온다, Human Acts) dulu. 


Janji yang Tak Terpenuhi

Tongho, seorang siswa kelas 3 SMP menjadi sukarelawan di gedung olah raga Gwangju. Seharusnya hanya mereka yang sudah dewasa yang boleh berada di sana. Namun Tongho memaksa. 

Tongho ikut mengurusi jenazah korban kekerasan militer atas demonstran yang terjadi pada Mei 1980 itu. Dia ditugasi mencatat dan melabeli jenazah yang sering kali tak teridentifikasi. Dia juga menyambut serta menemani orang-orang yang kehilangan dan mencari kerabat mereka. Tongho sendiri berada di sana karena ingin menemukan sahabatnya yang hilang.

Suatu hari, terdengar berita bahwa militer akan mendatangi gedung olah raga itu. Ibu Tongho sempat menjemputnya, tetapi Tongho tak mau pulang. Dia berjanji akan pulang saat gedung tutup di sore hari. Namun Tongho tak memenuhi janjinya.

Tujuh Kisah

Berat, membaca buku ini. Dari awal kita sudah dipaparkan para adegan suram: pengurusan jenazah dengan berbagai kondisinya. Brutal, sedih, sekaligus menegangkan.

Novel yang pertama kali diterbitkan di Korea Selatan pada 2014 ini terbagi menjadi 7 bagian. Masing-masing menceritakan tokoh yang berbeda, dengan sudut pandang penceritaan yang berbeda-beda pula.

Tongho adalah tokoh utama di bagian pertama. Beberapa kali, saya tak bisa dengan mudah menangkap karakter utama di bagian lainnya. Namun semua bagian berkaitan, menuju satu kisah.

Dalam novel ini kita dibawa melihat peristiwa Gwangju 1980 dari berbagai sudut pandang. Ada para demonstran, sukarelawan, orang-orang yang kehilangan, dan korban sendiri. Secara pewaktuannya pun ada penceritaan langsung di saat kejadian, ada pula masa sesudahnya, yang ini tidak disusun secara berturutan. Tak adanya penanda eksplisit membuat kita harus berpikir dan menganalisa sendiri: ini tentang siapa dan kapan terjadinya.

Han Kang mengajak kita menyelami kondisi Korea Selatan, khususnya Gwangju saat dan pasca peristiwa di bulan Mei itu. Pembaca dibawa untuk mencoba memahami perasaan para demonstran dan sukarelawan yang terus bertahan saat itu, dan juga bagaimana pengaruhnya bagi mereka yang berhasil selamat, bertahun-tahun sesudahnya.

Je me trompais en les considérant comme des victimes. Ils étaient restés parce qu'ils ne voulaient précisément pas être des victimes.

Saya salah, telah memandang mereka sebagai korban. Mereka bertahan justru karena tidak ingin menjadi korban.

(Hal. 252)

Sejarah yang Tak Cukup Dikenal

Saya jadi agak mencari sejarah Korea Selatan di masa-masa itu. Sedikit. Asal tahu dan mengerti konteks cerita saja. Terus terang saya—yang memang pada dasarnya tak suka sejarah—tidak tahu-menahu sisi sejarah Korsel itu. Mungkin saya kurang konsentrasi saat menonton drakor? Eh? Hehehe.

Saya sendiri termasuk yang ikut dalam beberapa demonstrasi mahasiswa Indonesia di masa Reformasi 1998. Membaca buku ini mengingatkan saya pada novel Laut Bercerita-nya Leila S. Chudori—yang baru sadari bahwa ternyata belum sempat saya tulis ulasannya meski sudah ada siniarnya di Klub Buku KLIP. Namun peristiwa Gwangju lebih massal. Lebih vulgar. 

Bagaimana mungkin sebuah negara memerintahkan pembunuhan ratusan (ribuan?) demonstran secara terbuka begitu? Rakyatnya sendiri! Saya tak bisa memahaminya.

Untuk Pembaca Dewasa

Novel ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2017 dengan mengambil judul Mata Malam. Penerbit Baca mengategorikan buku ini untuk pembaca 21 tahun ke atas. Konten kekerasan yang grafis dan eksplisit memang mewarnai penceritaan.

Meski membaca dengan susah payah, keindahan penulisan yang berhasil disampaikan penerjemah Jeong Eun-ji dan Jacques Batilliot dalam versi Prancis membuat saya ingin membaca buku-buku Han Kang yang lain. Dan memang ada La Végétarienne (채식주의자, The Vegetarian) yang sudah menunggu

Tapi nafas dulu deh. Karena sepertinya temanya berat juga! Hehehe.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Je Reviendrai avec la Pluie — Ichikawa Takuji

Kita Pergi Hari Ini - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Detektif Conan (Vol. 100) — Aoyama Gosho